Suatu hari ada seorang pengamen
perempuan datang ke tempatku dengan membawa anaknya yang masih balita. Usianya
mungkin jauh lebih muda dariku. Penampilannya sama dengan kebanyakan pengamen
lainnya, lusuh dan berdebu. Si pengamen ini berdiri di depan pintu dan ia
bilang ingin meminjam sepeda yang memang sedang aku parkir di depan. Katanya ia
akan mengambil sandal anaknya yang terjatuh sewaktu hendak naik bis sebelum
turun di depan tempatku. Tentu saja waktu itu aku berpikir tidak akan
meminjamkan sepedaku (sepeda ini adalah sepeda yang sengaja dibelikan ibu untukku dan aku sangat
menyayanginya, lalu bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan bila sesuatu
terjadi pada sepeda ini). Aku katakan padanya silakan pinjam sepeda di tempat
lain. Tetapi ia terus memohon padaku dan mengatakan akan meninggalkan anaknya
di tempatku beserta dengan tas yang berisi barang-barangnya, termasuk uang
miliknya. Dia berjanji akan mengembalikan sepedaku. Akhirnya, dengan berat hati
aku pinjamkan sepeda padanya. Segera ia membawa sepedaku pergi.
Setelah pengamen itu pergi aku
melihatnya dari belakang. Awalnya aku berpikir, sudahlah toh kalau memang
sepeda itu akan tetap menjadi milikku pasti akan kembali. Tetapi,
tetangga-tetanggaku yang melihat pengamen itu pergi sambil membawa sepeda
milikku menyuruhku untukku membuntutinya. Kata mereka sepedaku bisa jadi tidak
akan kembali. Rupanya pengamen itu tadi juga meminta ijin untuk meminjam sepeda
milik tetanggaku. Tapi tetanggaku itu tidak meminjaminya dan beralihlah ia
meminjam di tempatku. Aku terpengaruh oleh kata-kata tetanggaku. Akhirnya Aku
bersama seorang teman membuntuti pengamen itu dengan sepeda motor dari
belakang.
Benar pengamen itu kembali lagi
sambil membawa sandal milik anaknya. Ia kemudian mengembalikan sepeda milikku
dan mengucapkan terima kasih. Rupanya dia juga tahu kalau aku membuntutinya
dari belakang. Aku menjadi tidak enak hati dengan pengamen itu.
Dari sini ada beberapa pertanyaan
yang muncul dalam hatiku. Benarkah aku telah melihat seseorang hanya
berdasarkan penampilan luarnya saja?
Sikapku itu apakah sikap orang yang waspada terhadap orang yang tidak
dikenal atau kah aku justru telah berprasangka buruk terhadap orang lain? Lalu
dimanakah batasan antara bersikap waspada dan berprasangka buruk itu?
Seandainya waktu itu aku hanya
berpikir untuk membantu tanpa harus memikirkan apakah sepedaku akan kembali
atau tidak dan menyerahkan segalanya pada Yang Maha Tahu, mungkin
pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan muncul dalam hatiku.




