Laman

Jumat, 03 Oktober 2014

Aku dan Bulan Sabit

Bulan sabit mengambang sendirian di langitku. Pucat samar-samar, enggan tersenyum tanpa satupun sahabat. Jalan-jalan yang kulewati telah lelah seharian menapaki terik demi terik matahari. Dingin angin malam menampar wajah dan rambutku tanpa peduli. Deru-deru mesin kendaraan bermotor dan terang gelap lampu lalu lalang kian jauh meninggalkanku. Lambat-melambat langkahku diantara roda-roda yang terus bergulir tanpa henti, hanya sesekali di persimpangan, kemudian bergulir kembali. Aku dan jiwaku, berbicara tanpa kata, melihat dalam kegelapan sang bulan sabit.
Dia tersenyum setiap pagi, setiap hari, sejak pertama, mungkin ditujukan padaku dan memang ditujukan padaku, tanpa aku balas dengan keikhlasan, hanya karena rasa ketidakberpijakanku. Tulus dengan kesabaran, kedewasaan, setiap waktu yang sama. Tapi aku dengan ketidakberdayaan dan kemampuan yang sering terlupakan, dengan kesalahan dan keraguan, ketidakjelasan. Aku terdiam. Sungguh telah ku tutup pintu hatiku.
Aku tahu sejak pertama, dan dia pasti sadar bahwa dirinya indah, penuh keanggunan. Tetapi aku biarkan, seperti dingin angin yang menampar wajah dan rambutku setiap malam. Dapat aku tandai, kapan hari ia datang, kapan hari ia tidak datang. Dapat aku hitung, waktu-waktu ia muncul tiba-tiba di hadapanku, sebelum atau sesudah aku memikirkan. Aku biarkan tanpa perhatian. Sadar dan tidak sadar mula waktu aku terpengaruh. Hari-hari aku mulai berpikir, mulai berangan-angan, tanpa ujung tanpa pangkal. Mulai aku terpengaruh dengan ketidakberdayaan, ketidakmampuan dan kesalahan-kesalahan yang kian mencibir.
Aku sempat hendak berhenti di jalan yang baru aku awali, tapi dia menahanku, tanpa berkata-kata, hanya senyum pengganti bicara. Mulai ku arahkan pandanganku untuknya, dengan penuh harap atau mungkin tidak ada harap. Hingga satu hari dia datang tanpa menyampaikan senyum, seperti pagi-pagi sebelumnya. Berkeping hatiku. Sekali lagi aku merasa tidak berpijak. Ini suatu pengecualian waktu, aku gugup, ku buat lagi satu kesalahan. Untuk kedua kalinya di hari itu, telah ia tinggalkan sesuatu yang mungkin dan pasti dia tidak sadari, untukku, hanya untukku. Aku dapat tersenyum kembali.
Aku tidak ingin bertemu lagi. Aku malu dengan ketidakberdayaanku, aku malu dengan ketidakmampuanku, aku malu dengan ketidakberpijakanku. Aku takut mengulangi kesalahan lagi padanya ataupun pada yang lainnya. Aku terlanjur jatuh, enggan bangkit kembali. Tetapi selalu ada yang membuatku tetap bertahan saat aku dalam keterpaksaan. Dia, dia muncul dalam ketidakhadiran. Aku ingat-ingat, mencoba menerima dengan keikhlasan, sekedar melihat mawar meski di bawah hujan dan duri-duri tajam. Aku laksanakan dengan diam, beku, tanpa senyuman.
Aku lelah, aku ingin istirahat. Aku hendak mengusir kejenuhan, sekedar berjalan-jalan, untuk suatu kesenangan, atau hanya untuk berdiam. Ada bayang-bayang yang terus mengikuti, saat aku hendak tertidur. Ada dering-dering bel di sekitarku. Orang-orang yang pernah dekat denganku ataupun yang tidak pernah menyapa sama sekali. Ada pula suara lincah gadis kecil memanggilku dan bermanja padanya, tapi tidak aku izinkan. Inci-inci layar yang menyala di hadapanku dan di depan teman-temanku. Aku berjalan di antara sejuta buku pajangan, ku lihat, aku baca, atau hanya kulewati. Pernah pula aku bertemu dengannya di sini, berpura-pura. Dia menawarkan kebaikan yang bisa ku sambut dengan tangan terbuka, hanya karena kami sering bertemu, tetapi tidak pernah mengenal. Pernah pula suatu ketika kami bertemu tanpa sengaja, tanpa nyata, di suatu acara keluarga. dan kami akhirnya saling mengenal, bertemu kemudian hari dengan lebih manusiawi.
 Pernah suatu ketika aku berada dalam dingin yang luar biasa, hingga jari-jemariku putih bagai lilin, dia dalam bayang datang meminjamkan jaket yang tidak pernah aku lihat dia memakainya barang sekali. Kebaikannya itu sungguh kukenang. Dalam mendung dia datang, dan dalam hujan dia hendak pergi. Kupikirkan, kupinjamkan payung yang selalu ku bawa kemana langkahku pergi, atau ku ajak dia melangkah bersisian karena aku hendak ke satu arah dengannya. Sebagai tanda terima kasih atas kebaikannya yang ku kenang itu.
Aku kembali lagi pada hari-hari yang telah ku awali dengan harapan dan pagi yang baru. Tidak ada, aku kehilangan. Pagi kembali. Aku hitung waktu-waktu kesukaan dan pengecualian, tidak ada jawaban. Aku benar-benar telah terpengaruh dan masuk dalam terang yang menghilangkan cahaya bulan. Telah kusisakan perhatian, telah kubuka mata dan pandangan, telah kubuat waktu dalam menanti, tidaklah cukup untuk membawa dia kembali. Aku rindu.
Hari ini, masih dengan harapan yang sama, masih ku hitung waktu-waktu kesukaan dan pengecualian, masih tak ada jawaban. Aku biarkan, aku lepaskan, aku yakinkan mawar terlalu sayang untukku jadikan hiasan rambut atau hanya terbiar layu dalam genggaman. Kulalaikan, dengan berbagai anggapan dan prasangka yang membuatku gemetar. Aku mulai menerima, terbiasa, tanpa penyangkalan, tanpa ungkapan. Ini bukan bayangan, dia lewat di depan jendela pandangku, memenuhi panggilan corong lima waktu, memperhatikan langkahnya, kehati-hatian, tanpa berpaling. Telah kau bawa keharuman melati masuk dalam tamanku. Aku telah salah.
Bulan sabit masih mengambang sendirian di langitku. Pucat samar-samar berbayang awan keraguan, enggan tersenyum tanpa sahabat. Tak kubiarkan lagi dingin angin menampar wajah dan rambutku malam ini. Deru-deru mesin kendaraan bermotor dan terang gelap lampu lalu lalang disekitarku. Roda-roda terus bergulir tanpa henti, hanya sesekali di persimpangan, kemudian bergulir kembali. Aku dengan jiwaku, berbicara tanpa kata. Aku bahagia…..


By. C-lover

Tidak ada komentar:

Posting Komentar