Laman

Selasa, 19 Agustus 2014

Tahajudku tertinggal

Hari pertama
Tahajudku tertinggal dan aku begitu sibuk akan duniaku
Hingga Zuhurku kuselesaikan saat Ashar mulai memanggil
Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan Magrib
Dengan niat akan kulaksanakan bersama Isya
Itu pun terlaksana setelah acara TV selesai
Hari ke dua
Tahajudku kembali tertinggal
Dan hal yang sama kulakukan sebagaimana hari pertama
Hari ke tiga
Kembali aku lupa akan Tahajudku
Temanku memberi hadiah novel best seller lebih dari dua ratus halaman
Dalam waktu tidak satu hari aku telah selesai membacanya
Padahal betapa sulitnya aku membaca Alquran walau cuma satu jus
Alquran yang 114 surat cuma satu setengah surat yang kuhafal
Itu pun dengan terbata-bata
Tapi ketika temanku bertanya tentang novel tadi
Betapa mudah dan lancarnya aku menceritakan
Hari ke empat
Kembali aku lupa akan Tahajudku
Sorenya aku datang ke selatan Jakarta dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan Ustadku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan Ustadku yang sedang mengajarkan yang lebih luas tentang Agamaku
Aku lebih suka mencari obrolan dengan teman yang ada di samping kiri dan kananku
Hari ke lima
Aku lupa kembali akan Tahajudku
Kupilih saf paling belakang
Dan aku mengeluh saat Imam Sholat Jumat kelamaan bacaannya
Padahal betapa dekat aku dengan televisi
Dan betapa nikmat serunya saat perpanjangan waktu sepak bola tadi malam
Hari ke enam
Semakin aku lupa akan Tahajudku
Kuhabiskan waktu di mal dan bioskop
Untuk memuaskan nafsu mata dan perutku, sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa waktu di perempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itu pun tanpa menoleh dan dengan gerutuan
Hari ke tujuh
Bukan hanya Tahajudku, tapi subuhku pun tertinggal
Aku bermalas-malasan di tempat tidurku menghabiskan waktu
Di hari ke tujuh itu juga aku terkejut
Mendengar temanku kini telah terbungkus kain kafan
Padahal baru tadi malam aku bersamanya
Dan malam tadi dia dengan miss call nya mengingatkan aku tentang Tahajud
Kematian, kenapa aku baru gemetar mendengarnya sekarang
Padahal dari dulu dia selalu mengelilingiku
Dan dia bisa hinggap kapanpun dia mau
Serasa satu abad lebih aku lalai
Dari hari ke hari bulan dan tahun, yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah
Kurang mensyukuri walau Kau tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat kedua orang tuaku
Padahal keringat dan air matanya terlanjur keluar demi aku
Tuhan andai ini satu titik Hidayah
Walau imanku hanya seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang nanti tersisa
Tahajud dan Sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat Sajadahku, Amin.

thanks to rimba_1st@yahoo.co.fr  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar