Bulan sabit
mengambang sendirian di langitku. Pucat samar-samar, enggan tersenyum tanpa
satupun sahabat. Jalan-jalan yang kulewati telah lelah seharian menapaki terik
demi terik matahari. Dingin angin malam menampar wajah dan rambutku tanpa
peduli. Deru-deru mesin kendaraan bermotor dan terang gelap lampu lalu lalang
kian jauh meninggalkanku. Lambat-melambat langkahku diantara roda-roda yang
terus bergulir tanpa henti, hanya sesekali di persimpangan, kemudian bergulir
kembali. Aku dan jiwaku, berbicara tanpa kata, melihat dalam kegelapan sang
bulan sabit.
Dia tersenyum setiap pagi, setiap hari, sejak pertama,
mungkin ditujukan padaku dan memang ditujukan padaku, tanpa aku balas dengan
keikhlasan, hanya karena rasa ketidakberpijakanku. Tulus dengan kesabaran,
kedewasaan, setiap waktu yang sama. Tapi aku dengan ketidakberdayaan dan
kemampuan yang sering terlupakan, dengan kesalahan dan keraguan,
ketidakjelasan. Aku terdiam. Sungguh telah ku tutup pintu hatiku.
Aku tahu sejak pertama, dan dia pasti sadar bahwa
dirinya indah, penuh keanggunan. Tetapi aku biarkan, seperti dingin angin yang
menampar wajah dan rambutku setiap malam. Dapat aku tandai, kapan hari ia
datang, kapan hari ia tidak datang. Dapat aku hitung, waktu-waktu ia muncul
tiba-tiba di hadapanku, sebelum atau sesudah aku memikirkan. Aku biarkan tanpa
perhatian. Sadar dan tidak sadar mula waktu aku terpengaruh. Hari-hari aku
mulai berpikir, mulai berangan-angan, tanpa ujung tanpa pangkal. Mulai aku
terpengaruh dengan ketidakberdayaan, ketidakmampuan dan kesalahan-kesalahan
yang kian mencibir.
Aku sempat
hendak berhenti di jalan yang baru aku awali, tapi dia menahanku, tanpa
berkata-kata, hanya senyum pengganti bicara. Mulai ku arahkan pandanganku
untuknya, dengan penuh harap atau mungkin tidak ada harap. Hingga satu hari dia
datang tanpa menyampaikan senyum, seperti pagi-pagi sebelumnya. Berkeping
hatiku. Sekali lagi aku merasa tidak berpijak. Ini suatu pengecualian waktu,
aku gugup, ku buat lagi satu kesalahan. Untuk kedua kalinya di hari itu, telah
ia tinggalkan sesuatu yang mungkin dan pasti dia tidak sadari, untukku, hanya
untukku. Aku dapat tersenyum kembali.
Aku tidak
ingin bertemu lagi. Aku malu dengan ketidakberdayaanku, aku malu dengan
ketidakmampuanku, aku malu dengan ketidakberpijakanku. Aku takut mengulangi
kesalahan lagi padanya ataupun pada yang lainnya. Aku terlanjur jatuh, enggan
bangkit kembali. Tetapi selalu ada yang membuatku tetap bertahan saat aku dalam
keterpaksaan. Dia, dia muncul dalam ketidakhadiran. Aku ingat-ingat, mencoba
menerima dengan keikhlasan, sekedar melihat mawar meski di bawah hujan dan
duri-duri tajam. Aku laksanakan dengan diam, beku, tanpa senyuman.
Aku lelah, aku ingin istirahat. Aku hendak mengusir
kejenuhan, sekedar berjalan-jalan, untuk suatu kesenangan, atau hanya untuk
berdiam. Ada
bayang-bayang yang terus mengikuti, saat aku hendak tertidur. Ada dering-dering bel di sekitarku.
Orang-orang yang pernah dekat denganku ataupun yang tidak pernah menyapa sama
sekali. Ada
pula suara lincah gadis kecil memanggilku dan bermanja padanya, tapi tidak aku
izinkan. Inci-inci layar yang menyala di hadapanku dan di depan teman-temanku.
Aku berjalan di antara sejuta buku pajangan, ku lihat, aku baca, atau hanya
kulewati. Pernah pula aku bertemu dengannya di sini, berpura-pura. Dia
menawarkan kebaikan yang bisa ku sambut dengan tangan terbuka, hanya karena
kami sering bertemu, tetapi tidak pernah mengenal. Pernah pula suatu ketika
kami bertemu tanpa sengaja, tanpa nyata, di suatu acara keluarga. dan kami akhirnya
saling mengenal, bertemu kemudian hari dengan lebih manusiawi.
Pernah suatu
ketika aku berada dalam dingin yang luar biasa, hingga jari-jemariku putih
bagai lilin, dia dalam bayang datang meminjamkan jaket yang tidak pernah aku
lihat dia memakainya barang sekali. Kebaikannya itu sungguh kukenang. Dalam
mendung dia datang, dan dalam hujan dia hendak pergi. Kupikirkan, kupinjamkan
payung yang selalu ku bawa kemana langkahku pergi, atau ku ajak dia melangkah
bersisian karena aku hendak ke satu arah dengannya. Sebagai tanda terima kasih
atas kebaikannya yang ku kenang itu.
Aku kembali
lagi pada hari-hari yang telah ku awali dengan harapan dan pagi yang baru.
Tidak ada, aku kehilangan. Pagi kembali. Aku hitung waktu-waktu kesukaan dan
pengecualian, tidak ada jawaban. Aku benar-benar telah terpengaruh dan masuk
dalam terang yang menghilangkan cahaya bulan. Telah kusisakan perhatian, telah
kubuka mata dan pandangan, telah kubuat waktu dalam menanti, tidaklah cukup
untuk membawa dia kembali. Aku rindu.
Hari ini, masih
dengan harapan yang sama, masih ku hitung waktu-waktu kesukaan dan
pengecualian, masih tak ada jawaban. Aku biarkan, aku lepaskan, aku yakinkan
mawar terlalu sayang untukku jadikan hiasan rambut atau hanya terbiar layu
dalam genggaman. Kulalaikan, dengan berbagai anggapan dan prasangka yang
membuatku gemetar. Aku mulai menerima, terbiasa, tanpa penyangkalan, tanpa
ungkapan. Ini bukan bayangan, dia lewat di depan jendela pandangku, memenuhi
panggilan corong lima waktu, memperhatikan langkahnya, kehati-hatian, tanpa
berpaling. Telah kau bawa keharuman melati masuk dalam tamanku. Aku telah
salah.
Bulan sabit masih mengambang sendirian di langitku.
Pucat samar-samar berbayang awan keraguan, enggan tersenyum tanpa sahabat. Tak
kubiarkan lagi dingin angin menampar wajah dan rambutku malam ini. Deru-deru
mesin kendaraan bermotor dan terang gelap lampu lalu lalang disekitarku.
Roda-roda terus bergulir tanpa henti, hanya sesekali di persimpangan, kemudian
bergulir kembali. Aku dengan jiwaku, berbicara tanpa kata. Aku bahagia…..
By. C-lover